Transformasi Si Anak Cemen




Cemen dan 'Anak Mami' 

Waktu hamil aku, ibu bilang dulu suka ngidam ati ampela. Makanya sekarang aku tumbuh jadi anak cemen begini. Beda sama pas hamil kakak, katanya ibu suka sekali makan kepala ayam, jadi sekarang kakak jauh lebih pintar daripada aku. Dulu aku mikirnya gini : kepala ayam kan isinya otak-----kalo kita makan otaknya, otomatis nanti anak yang akan kita kandung bisa jadi ketularan pintar, mungkin seperti itulah korelasinya. Ah...Bu, bolehkah aku dilahirkan kembali ke dunia? Hahahaha...#Itu pikiran bodoh masa kecil. 



Tapi memang dari segi karakter, aku lebih banyak mengoleksi sifat yang cenderung ke arah yang jelek-jeleknya saja. Pendiem, pemalu, susah gaul, takut berpendapat, dan selalu bersembunyi di balik punggung ibu. Iya, dulu tuh aku 'biyungen' banget. Biyung berasal dari kata Bahasa Jawa yang artinya ibu. Istilahnya kayak anak ayam yang takut kehilangan induknya, makanya selalu nginthil dimanapun babon ditemukan. Meski begitu, ibuku yang PNS (penyuluh pertanian dan peternakan) tentu saja tidak bisa berbuat banyak saat jam kerja 'teng' (tiba), sehingga pada akhirnya aku harus dititipkan di tempat tetangga dan rela tiap hari disuapin bayem pake piring seng kalau ga icip-icip nasi kecrek karena tetanggaku yang satu itu doyan banget sama nasi kecrek. Tapi ga ada jeleknya juga sih, karena si Mbaknya dulu juga sering banget bikinin jajanan pasar home made kayak kueku, corobika, mata roda, ataupun lapis.....

Dulu, jaman-jamannya masih jadi anak bungsu, dunia serasa milik berdua--milik aku dan milik ibuku. Atau aku dan semua orang yang menganggapku lucu dan masih pantas dicap sebagai bocah kecil tanpa dosa yang patut dimanja-manja... Namun semua berakhir, ketika ibu mengumumkan kepada kami bahwa sebentar lagi akan ada adik lahir ke dunia. Mau tidak mau aku kudu belajar untuk jadi lebih 'temuwo' lagi. Menjadi lebih dewasa karena aku akan dipersiapkan menjadi seorang kakak. Padahal jujur, aku sebenarnya belum rela lho kalo bobok dipisahkan dari ibu. Aku bakalah cranky banget kalau boboknya ga dikelonin sama ibu, hahhaha... 

Terakhir merasakan euforia jadi anak bungsu adalah saat libur sekolah dan kami sekeluarga memutuskan untuk piknik ke pantai. Berempat boncengan pake motor Alfa. E ga ding...sebenarnya berlima, karena jabang bayi adik sudah ada dalam kandungan. Nah, piknik ini kami rayakan setelah sekian lama kami tidak merasakan liburan yang benar-benar liburan. Karena yah--Bapak Ibu, keduanya PNS yang jarang sekali memanfaatkan moment libur untuk rekreasi. Jadi kalo ga bener-bener ada retret dari tempat kerja ya ga jalan. Ndekem aja di rumah kayak kucing kami yang bernama Tinin. Apalagi dulu kan masih jaman susah. Masih krismon. Rumah masih pakai tegel, dinding belum diplamir apalagi dicat. Jadi kebutuhan piknik berasa mewah banget #eaaakk. 

kakak, ibu, dan aku

kakak, bapak dan aku

Piknik kami tetapkan di lokasi yang tidak jauh-jauh amat dari rumah.... Yah Pantai Petanahan saja di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Tapi itu sudah terhitung jauh ding dari rumah, mengingat tumpangan kami  saat itu baru sebatas motor bodol yang anehnya sampe sekarang masih tetap awet (lho???). Meski demikian piknik ini terasa sangat mengasyikkan, karena pada hari itu ibu khusus membuatkan bekal 'tahu warung' yang sampai detik ini masih sangat memorable dalam ingatan. Tahu warung ini aslinya bikinan sendiri dan bukan dibeli dari warung. Cuma entah kenapa kami sepakat menyebutnya demikian karena warna dan bentuknya yang khas....Kayak yang ada di warung-warung itulah. Jadi tahu oranye disigar menyerupai kipas, lalu digoreng dengan minyak panas dan dimakan dengan cara diceplus pake lombok. Rasanya benar-benar gurih dan tak terlupakan.

Di pantai, aku dan kakak sudah seperti anak kembar yang berkejar-kejaran tak henti sepanjang waktuu #NyanyiModeOn. Pulangnya, kami sengaja mampir ke tempat sate paling legendaris di daerah Ambal, yakni milik Pak Kasman. Satu tusuk diselipin daging yang gede-gede, belom lagi ada potongan kulit yang gurihnya bener-bener nyoi kalo kata Bang Ocid jaman sekarang. Ada pula sate telor yang walau bikin kenyang, tapi sukses membuat ibu tergoda untuk mencobanya. Aih, betul-betul keluarga bahagia.

Kok Benci Hitungan Ya ?

Oh ya, sejak SD, aku dan kakak sering dijuluki kakak beradik yang selalu 'rangking'. Iya, jadi tiap catur wulan sekali kami selalu sukses menggasak angka satu untuk menghiasi raport. Hal tersebut kemudian dijadikan topik obrolan oleh bapak dan ibu setiap kali kumpul keluarga (namanya juga orang tua). Tapi terlepas dari itu, sebenarnya aku sangat benci pelajaran hitung-hitungan. Aku benci matematika. Sangaaattt. 

Pernah suatu ketika, saat test, aku sudah hampir putus asa mengerjakan baris demi baris soal yang sudah dibagikan. Akhirnya aku selesai paling akhir dibandingkan teman-teman yang sudah cabut duluan meninggalkan kelas. Mungkin mereka juga sebenarnya hopeless--tapi setidaknya mereka tidak secemen aku yang kala itu malah nekad mengeluarkan jurus air mata. Niatnya sih biar dibantuin guru jaga...Tapi sayang, kode mewek ini tidak berhasil. Hahahahhahahahahhaha.....!!! Hasil ujian harus selesai dengan buah pemikiran sendiri (sebel).

Oh ya, aku juga mau buka dosa dikit waktu kecil boleh ya? Suatu ketika, kami sekelas disuruh mengumpulkan buku ulangan untuk dikoreksi keesokan harinya. Siang buku sudah ditumpuk, dan jam 1-nya bel tanda pulang berbunyi. Sesampainya di rumah, iseng-iseng aku cocokin jawaban yang benar dengan kunci yang ada di LKS. Dan hasyemmmm....aku baru sadar ternyata banyak jawabanku yang salah. Ah, mampuslah !!! Aku kan tidak mau ada nilai merah dalam rapot. Makanya dengan modal nekad, akhirnya aku nyatron ke sekolah sore-sore buat mengganti jawaban soal. Lewat jendela yang engselnya sudah soak, aku melompat dan happp...masuk ke dalam kelas. Setelah sukses membobol lemari, cepat-cepat aku tip-x jawaban yang salah, dan hahahhahahaa....gelap-gelapan segera kupermak itu hasil ulangan. Licik bangettt ya aku?....(POKOKNYA, TOLONG INI JANGAN DITIRU !!). 

Sering Dicampakan Teman dan Jadi Target Bully

Beranjak SMP, aku juga tak seberani kakak atau adik yang getol memperjuangkan sekolah di tempat favorit. Kakak memang sudah jauh-jauh hari ngincer SMPN 2 Purworejo yang terkenal dengan anak-anak pinternya. Sedangkan adik, waktu SMP juga sukses tembus ke sekolah favorit, SMPN  3 Kutoarjo (yang terkenal dengan sekolah bertaraf internasionalnya). 

Aku sendiri malah melipir ke sekolah yang dekat-dekat  saja dengan rumah, SMPN 1 Prembun. Aku memang beda dengan 2 saudaraku yang sering unggul di bidang akademik. Aku ngerasa, kelebihanku malah condong ke hal-hal yang berbau kesenian, art, kreatif, gitu-gitulah. Aku suka gambar komik, aku suka kirimin cerpen ke koran-koran, atau ikut lomba yang berhubungan dengan proses kreatif. Mungkin aku memang terlahir berbeda dengan mereka. Tapi itulah aku, itulah spesialnya aku (bukan nasi goreng lho ya). 

Kembali lagi ke masa SMP, dengan modal NEM yang pas-pasan (kalo ga salah 39 koma sekian yang kalo dibagi 5 mata pelajaran, maka  rata-ratanya menjadi 7 koma sekian), akhirnya aku masuk ke SMP dekat rumah tadi. Di sana kelasnya ternyata banyak. Ada 8 kelas, dari kelas A sampai H. Kalo yang buat anak-anak pinter, markasnya ada di 2 tempat, yaitu A dan B. Sedangkan aku yang hampir mendekati standar nilai anak-anak pinter cuma bisa mentok sampai kelas C. Ah sudahlah...berusaha tetap semangat, meskipun aku yakin bakalan susah nyari temen. 

Benar saja, mungkin sudah bawaan orok kalau aku tidak pandai dalam berteman. Mereka yang kupandang populer lebih memilih mojok membentuk geng baru. Sedangkan aku? Hanya kedapatan sisa temen yang yah...mungkin juga mereka terpaksa akhirnya sebangku dengan aku hahhaha... 

Apesnya, ternyata aku sebangku dengan si E yang anaknya (mohon maaf) sering banget remidi. Ga pelajaran hitungan, ga pelajaran hafalan...pasti ga pernah absen remed, Aku kasihan juga sama E, tapi gimana dong? Tiap kali diajarin dianya pasti ga mudeng-mudeng. Ya sudahlah selama 1 tahun aku harus bersabar, karena tiada hari, selalu kudapati dirinya tanpa remidi.  

Tibalah saatnya kenaikan kelas. Mungkin karena prestasiku yang mencolok *uhuk maaf bukannya mau sombong*, sehingga kerap dipanggil ke depan waktu upacara bendera dan diumumkan sebagai si rangking satu (lalu berhak mendapatkan satu pack buku), akhirnya aku berhasil masuk ke kelas unggulan------ kelas A. Horeee... Dan yah, hal itu berhasil aku pertahankan mulai dari kelas 2 hingga kelas 3. Semua berjalan normal, meski lagi-lagi untuk urusan pertemanan aku kurang jago. 

Kelas 2, aku sebangku dengan E (tapi E yang ini berbeda dengan E yang waktu kelas 1). Dia ini mulanya ramah, supel, dan easy going. Rumahnya satu desa denganku, namun beda RW. Awal-awal kami berteman, semua berjalan baik-baik saja. Entah kenapa, ga ada angin ga ada ujan, tiba-tiba dia ngediemin aku. Padahal jujur aku ngerasa ga pernah punya salah sama dia. 

Diem-dieman ini berlangsung lama, hampir di sepanjang kelas 2. Hingga aku ga tahan dan berinisiatif untuk meminta maaf duluan sekiranya memang ada salah. Sore-sore waktu masih dalam suasana Lebaran, aku bela-belain bersepeda ke rumahnya E. Minta salaman (khas anak SMP banget lah). Ealah tapi apa yang terjadi? Ditanggapinya malah sedingin es. Mukanya ditekuk dan ogah-ogahan tanpa ngasi penjelasan letak salahku dimana. Besokannya, tetep dong dia acuh tak acuh dan malah bikin geng baru dengan teman yang lain. Apa salahku??? Hmmm...ya sudah, akhirnya aku cuekin saja sampe nyesek banget ketika mengingatnya, meski aku yakin aku ga pernah bikin kesel atau apa. 

Puncak dari rasa antipatiku terjadi saat E malah nge-geng dengan kumpulan temen yang suka membully. Dan...aku yang emang punya tampang 'rentan dibully' inipun akhirnya kena juga. Gara-garanya, aku memang punya prinsip ga bakal nyontekin teman waktu Ujian Nasional. Huft... tau ga apa yang kudapat? Malah aku dibilang pelit, si muka unyil, dan bla bla bla... (pokoknya sesuatu yang menyakitkan hati seorang anak SMP ketika dikatain secara verbal deh). Padahal kan aku bertindak sesuai dengan apa yang memang seharusnya seorang siswa lakukan. Masa malah dibully. Jujur sampe sekarang bullyan itu masih membekas dalam memori intiku lho (kalo kata kartun animasi Inside Out).

Di SMA, kehidupan semakin berwarna. Tapi masalah persahabatan cenderung flat. Ya gitulah, mungkin ada sebagian teman yang salah paham terus jadinya maen diem-dieman sama aku. Padahal tadinya kami kompak banget karena memang sering dimasukkan ke kelompok belajar yang sama lantaran urutan abjad yang berdekatan. Tapi ya begitulah namanya masa puber, apa apa dikit dibikin baper. Padahal jujur dulu aku cuma nganggap mereka sebatas sahabat thok...cuma entah kenapa ada yang salah tanggap karena satu dan lain hal, hahaha....kalo diinget-inget lucu juga...harusnya tuh aku cuek aja dan let it flow tanpa membuang energi selama 2 tahun dan merasakan aura negatif yang mereka sebarkan.

Meskipun begitu, di kelas lain untunglah aku masih punya sahabat yang mau berbagi dalam suka maupun duka....Kayak yang ada di foto-foto berikut ini...

Bersama Siti Umamah sahabatku, waktu tour ke Bali (Buset celana levisku boleh juga ya)
 
bersama Yanti sahabatku

Aku kelas 1 SMA


Masa SMA juga menjadi ujung tombakku untuk berubah ke arah yang lebih baik. Aku mulai tergerak untuk banyak bersosialisasi di lingkup ekstrakulikuler. Aku ikutan jurnalistik dan mading serta PMR. Aku juga mulai antusias mengikuti lomba ini itu, termasuk lomba karya tulis ilmiah  hingga tingkat propinsi. 

Waktu itu aku berpartner dengan teman sekelas yang jago ngomong karena sudah sering menjadi ketua di banyak organisasi sekolah. Kami meneliti ketersediaan rumput gajah di wilayah desa tempat tinggal kami untuk kemudian dikaitkan dengan prospek ekonomi masyarakat setempat. Didampingi 2 orang guru, akhirnya kami berangkat ke tempat penyelenggara lomba yakni di wilayah Kudus (Universitas Swasta yang ada di sana). Kami berangkat 1 hari sebelumnya untuk crosschek tempat supaya tidak grogi saat berlaga. Naas, tidak ada fasilitas tertentu seperti penginapan untuk peserta yang datang dari jauh. Akhirnya kami terpaksa menginap di mesjid kampus, sedangkan aku yang notabene adalah peserta cewek sendirian terpaksa harus tidur di dalam mobil. Sebenarnya aku malah ga tidur lho, karena merasa mobil yang aku tumpangi sedang berteduh di bawah pohon angker, hiiiiiiyyy?..

Benar-benar hari yang sangat melelahkan apalagi ketika tiba waktunya untuk bertanding. Mau mandi di toilet masjid kok ya pintunya rusak. Ga bisa dikunci. Kondisi air juga cukup memprihatinkan. Alhasil, aku cuma sempat cuci muka dan gosok gigi doang. Iya, jadi tuh aku  ga mandi. Hhahahahah....yaudahlah ya...biarin aja, uda keburu kacau karena semalaman tidur di mobil sembari menyiapkan materi presentasi. Ah...pasrah sepasrah-pasrahnya apalagi saat partner lombaku keceplosan salah ngucap di hadapan juri-juri. Katanya, penelitian ini dibantu oleh ibuku yang penyuluh pertanian ..hahhahahahah..terlalu jujur men !!! Padahal ibu cuma kasih referensi tinjauan pustaka doang, huft... 

Akhirnya karena ketelodaran temanku, kami cuma berhasil meraih juara 4. Apa boleh buat.....Sudah ga mandi, ga ngegondol juara pula, lengkap ! Tapi ada lucunya juga sih, berkat lomba ini, foto kami dijadikan cover majalah sekolah di edisi terbaru. Dan di situ rambutku masih yang model crondol, cepak ala ala lah, hahhahaha... Terus karena kejadian itu--Pak Sih--guru matematika kelas 3 selalu ngeledek aku sebagai gadis sampul majalah, Arrrrrggh !!!

Kiri : foto cover majalah, ketika aku dan temanku mengikuti karya tulis ilmiah, kanan : bersama teman ketika di Bali


Tiba masanya Ujian Nasional. Lagi-lagi pelajaran hitungan menjadi momok tersendiri bagi si anak cemen ini. Matematika. Apalagi coba yang bisa membuatku konsisten tahajud selain pelajaran yang satu itu? But, it's work. Gara-garanya ada 2. Satu, waktu pusing-pusingnya ujian nasional, ibu malah dines keluar kota sehingga lagi-lagi  di saat-saat krusial begini aku malah tidak didampingi (waktu ujian SMP juga sih). Kedua, pernah ada satpam yang rese dan bikin aku down karena nyebar berita aneh-aneh. Suatu ketika, saat aku menuntun sepeda di gerbang dan bersiap pulang, aku dicegat Pak Satpam, lalu dibisikin sesuatu yang lumayan mengerikan. Kata dia : "Anak IPA ada 1lho  yang ga lulus UAN." LADALAH....Kenapa coba ngegosipnya cuma sama aku ??? Aku kan suka panik kalo udah denger desas-desus tentang kelulusan. Apa ini pertanda??? Aaaaaaakk.... Soalnya waktu ngerjain matematika agak ragu gitu antara bener enggaknya sama jawabannya? Saking takutnya kejadian, akhirnya fix..malem itu juga aku mulai qiyammul lail tanpa putus (kecuali waktu ketabrak haid). Ajaib !!! Saat kelulusan tiba, aku justru nangkring di posisi 10 besar untuk peraih NEM tertinggi sesekolahan dengan nilai Bahasa Inggris 9,6 (cuma salah satu thok), Bahasa Indonesia 9,4 (salah 2 thok), dan matematikaa.....eng ing eng...alhamdulilah dapat 7 koma sekian. Allohu Akbar !!!!! Sujud syukur. Sejak saat itu aku mulai pede dan bersiap mental menuju gerbang sekolah yang lebih tinggi yakni jalur PMDK di PTN favorit, IPB. 

Jaman SMA aku tomboy juga ya wkk


Lika-Liku Menjadi Mahasiswa

Hari-hari menjadi mahasiswa adalah pencarian jati diri yang sebenarnya. Sekalinya jauh dari rumah,  udah menclok sendiri di Kota Ujan, Bogor. Sebenarnya aku iri sama kakak yang kuliah di UNS dan masih bisa pulang Sabtu Minggu menggunakan Prameks. Apa boleh buat, sebab sudah terlanjur keterima bukan???

Akhirnya dijalani dengan yah...memang pake acara nangis-nangis bombay dulu sih waktu inget eh sekarang aku harus makan sendiri nih, ngibrit ke kantin Asrama Putri, beli nasi punya-nya bibi nasi kuning, atau ngantri mandi kalo mau kuliah pagi. Aahhhh...sadis..begitu menyesakkan ternyata jauh dari keluarga. Sampai akhirnya aku harus merasakan yang sekamar dengan 4 orang dari berbagai suku se-Indonesia. Beda sifat, beda karakter. Aku, Yeni, Mbak Lin, dan Ita. Aku dari Kebumen, Mbak Lin dari Bekasi, Yeni Riau, sedangkan Ita anak Bojong yang masih satu daerah dengan Bogor. Makanya doi jarang banget nginep asrama karena lebih sering pulang ke rumah. Mbak Lin juga sih. Jadi kalau pas yang anak jauh ini kedapatan jaga kamar, kami selalu saling mengecek...eh ada rasa-rasa merinding ga? Soalnya, asrama kami kan konon kabarnya ada penghuninya....hiiii serem. Aku dan si Jenay (panggilanku untuk Yeni sedangkan dia memanggiku Justay), memang anaknya penakut. Jadi sebisa mungkin yang jaga kamar paling tidak ada 2 orang lah. 

Pernah suatu kali aku mecahin botol minyak tawon punya Mbak Lin (sama Yeni sih). Akhirnya pas besokannya Mbak Lin pulang, dia ngambek. Ngediemin kami... Aku dan Jenay bingung lah...karena udah minta maaf tapi masih dicuekin. Akhirnya kami sepakat mengganti minyak tawon itu dan memberikan Mbak Lin surprise. Alhamdulilah, setelah itu kami bisa ketawa-ketawa lagi, nyari nasi kuning bertiga lagi, dsb. Ita jarang ke asrama sih...tapi dia jago banget pelajaran hitungan, jadi kalo pas dia ngamar ya inilah kesempatanku untuk minta diajarkan pelajaran matrikulasi yang enggak banget itu----Pengantar Matematika sama Kimia, huft. Asyiknya lagi, Ita sering bawa komik banyak dari rumah, sehingga kalo pas dia pulang, aku jadi sering nebeng baca (gratis). Sayang, kebersamaan itu hanya bertahan 1 tahun. Karena tingkat 2 asrama harus diisi dengan mahasiswa baru kembali. Kamipun berpencar mencari kosan masing-masing (yang tentunya sesuai dengan budget dan gaya hidup kami).

Hari-hari selanjutnya bisa dikatakan adalah proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku dapat kos-kosan di daerah Bara 1 yang letaknya paling ujuuuuuuuuuung dari Al Amin depan. Yah, dempet-dempetan ama sawah lah. Sepelemparan sama Hotel Duta Berlian. Di situ, aku bertemu dengan karakter yang berbeda lagi. Lebih beragam lagi karena ga cuma teman satu tingkat. Kebanyakan sih kakak kelas. Dan yang aku heran, kosannya selalu penuh meski letaknya di peradaban. Entahlah, mungkin karena murah (setahun cuma dikenai ongkos Rp 1,5 juta saja..,,, berarti sebulan ga ada seratus rebuhhhh, emejing kan?). Ya, meski kabar-kabarnya ada 'penghuni lain' di beberapa spot kamar yang kalo kuterawang-terawang sepertinya menempati bagian pojok.

Hidup di kosan dengan model kamar-kamar, lalu begitu pintu dibuka sudah ada halaman, dan dapur serta kamar mandi  yang terpisah, menjadikan kami bisa ambil napas sejenak. Setidaknya model kosan kayak gini ga bikin pandangan mata jadi sepet karena ngedapetin spot yang itu-itu aja setiap harinya. Kosan menjadi ramai kala ada teman yang membawa binatang piaraan seperti Gumi (kucing babon gemuk yang sangat semolay) juga Oco (kelinci yang tadinya kecil malah tumbuh menjadi big size entah karena dia merasa tentram hidup di areal yang gembur rumputnya atau gimana hahaha). 

Gumi kucing gembul yang suka nongkrong di depan kamar kosku
Oco...kelinci kosan yang berubah jadi...guedeee banget

Selain itu teman-teman juga saling perhatian satu sama lain, karena kerap mengadakan acara cucurakan (makan nasi uduk dengan aneka tetelan lauk yang digelar pake daon pisang).  

Beberapa dari kami juga membentuk geng tersendiri, kayak geng sisi kamar bagian kiri atau geng sisi kamar bagian kanan. Kalau geng kamar sebelah-sebelahku kebetulan punya hobi sama kayak suka nonton horror Thailand malem-malem dengan lampu kamar dimatikan, (biasanya markas yang dipilih adalah kamarku) atau olahraga pagi ngelilingin kampus IPB yang diakhiri dengan jajan bakso goreng di depan BNI Darmaga. Biasanya yang ini kulakukan berdua dengan sahabatku Yanti. Sekarang dia udah punya baby kecil. Bersama Yanti, biasanya aku suka ngegalau bareng...meneropong masa depan, eh ntar jodoh kami siapa ya?? Kalau nikah, masing-masing dari kami bakalan dateng ga ya??? (Sayangnya engga, karena kami nikahannya juga hampir bebarengan sehingga akhirnya rempong dengan kegiatan masing-masing). Atau sekedar nyeplos, gimana kalo ntar kami besanan, hahhaha...gitu-gitulah. Maklum Yanti ini dulunya satu SMA dengan aku. Jadi obrolannya lebih mendalam ketimbang ke temen yang lain. Kami juga berjuang bareng waktu hampir putus asa gonta-ganti judul skripsi sampe akhirnya bisa wisuda satu kloter..

bersama Yanti sahabatku

bersama teman satu jurusan (dah pada merried semua)

Terobsesi Menjadi Kurus

Pernah kebayang ga, Gembulnita yang penuh dengan buntelan lemak ini dulunya kuruuuuuuuuuuuuuusssss banget kayak anggotanya SNSD. Yoih ! Dulu beratku bisa nyampe 34,5 kg dengan tinggi badan 155 cm. Sekarang jangan ditanya....uhhhh jebol timbangan dengan bobot 48-50 kg (aku harus syedih atau bagaimana nih?). 

Kalau ditanya kenapa? Perasaan alasannya sepele banget. Dulu, waktu lebaran kan sering tuh tante-tante pada main. Nah di situlah ujung pangkalnya kenapa aku sampe nekad diet biar bisa dibilang kurus. Soalnya kalo ketemu tante-tante dari adiknya ibu, badanku yang sehat bin gembil ini suka dibanding-bandingin sama badannya kakak (yang ramping bin singset itu). Makanya aku jadi bete...terus pengen kurus deh. 

dari 36 kg

sekarang jadi  48-49 kg hahahhahahah
i'm bulet now

Ada lagi pemikiran nyleneh lainnya kayak orang cantik yang digeneralisasikan langsing di budaya kita....Jadi tuh aku mikirnya, apa iya karena aku gembil makanya ga pernah punya pacar? Hhahahah...yes, aku memang jomblo akut sejak dari bangku sekolah hingga mahasiswa dulu. Blas ga pernah pacaran. Makanya rada pesimis dan mustahil kalok ditanya kapan nikah? Lha wong pacar aja belom punya, wakkakaka.... 

Tapi mungkin karena efek skripsi juga kali ya yang menjadikan nafsu makanku akhirnya anjlok parah. Di samping memang diet nasi selama beberapa semester, aku juga paling itung-itungan soal takaran kandungan nutrisi kalo diajak jajan ke Alfamart. Pasti tiap mau ngambil jajan, aku cek-cek dulu kandungan lemaknya berapa, karbonya berapa, energinya berapa, dsb. Hahahhaha, kacau memang. Sampai akhirnya timbanganku terus merosot dan merosot, hingga membuat teman-teman panik lalu membombardirku dengan aneka macam nasihat. Katanya : "Jeleeeekkkkk, kayak jerangkong". Dan akupun insyaf sampai ada pangeran yang bener-bener singgah ke hatiku meski datangnya dari dunia maya. Siapakah dia? Eng ing eng....

Jodoh dari Dunia Maya

Suatu ketika, saatnya sense of akil balighku udah mbulet, wkwkwkwk (maksudnya uda kebelet kawin pengen ketemu jodohnya), akhirnya aku berdoa kusyuk : Ya Alloh,  pertemukan aku dengan sosok yang akan menjadi calon imamku #eaaak. Ibu juga sudah gencar nanya sih, uda ada calon belom, sementara kakak udah sering bawa calon ipar ke rumah. Kakak emang lebih jago urusan beginian ketimbang adeknya yang lugu bin kuper ini. 

Saking kepikirannya masalah jodoh, sampe-sampe aku risih kalo ada yang nanya eh si dokter hewan X kabarnya sering main ke rumah ya... (padahal cuma sejawatnya ibu). Atau anak temennya bapak, kan sekolah di IPB juga, kayaknya pinter lho bla bla bla.....Dalam hatiku berkata : AKU MAU CARI SENDIRI SIAPA CALON IMAMKU, DEAL !!! HAHHAHAHAHHA. Dari situ aku tak henti-hentinya berdoa...."Ya Alloh, hadirkanlah sosok yang akan menjadi calon imamku yang sesuai dengan kriteriaku...aminnnn".

Kira-kira di semester 6-an, tugas kampus makin membludak. Aku musti bolak-balik ngeprint di warnet karena memang aku tak punya leptop apalagi printer. Waktu itu, leptop ibaratnya barang mewah yang bisa dipunyai mahasiswa berada saja atau setidaknya penerima beasiswa BUD. Karena itulah, minimal tiap weekend aku musti kongko jadi anak warnet. Gawl banget kaaaahn? Alasannya sih tugas, tapi kebanyakan malah donlod-donlod walpaper ga jelas selain tentu saja fb-an (karena cuma aktivitas ini yang bisa aku manfaatkan mengingat aku memang gaptek).

Nah, cerita berlanjut ketika aku mulai punya banyak teman dari dunia maya. Kebanyakan sih yang nge-add masih satu alumni. Termasuk suamiku, yang ternyata kakak kelas SMA, beda 4 tahun. Tadinya sih cuma chatting iseng doang. Ya, lama-lama kok aku perhatikan mukanya mirip Adly Fairuz yang ada di Cinta Fitri ya (sambil mandangin profil picturenya yang kurus ketika sedang manjat gunung)....Hmm, setelah kubayang-bayangkan, boleh juga nih kalok dijadikan mantunya ibu hahhahaha.....

Oh iya, urusan ngenet, aku emang tergolong labil parah. Waktu itu aku bisa nyetatus sampe 3 kali dalam sehari. Maklum ngenetnya cuma sekali dalam seminggu, jadi begitu berselantjar...ya sudah membabi buta saja istilahnya.

Pernah suatu kali aku update gambar tentang ini (maaf, waktu itu gambarnya masih acak acakan). 



Lalu beberapa menit kemudian muncul dong....seseorang yang komen. Isinya puitis parah...sampe-sampe mikir ni orang beneran ga yah, kalo iya...ntar kumasukan tiket buat kujadikan list doa dalam setiap tahajudku, wkwkwk...

Jadii.....kurang lebih dari gambar itulah yang akhirnya menentukan kami kopdar. Suatu ketika dia ada kerjaan di Bogor. Tak ada angin tak ada hujan, Malam Minggu yang syahdu itu hape Sony Ericson varian paling murahku berbunyi. Centring ada SMS. Dari nomor orang yang ngakunya kakak kelas SMA dan sering komen status di FBku. Isinya...dia pengen ditemenin jalan-jalan ke Kebon Raya. Alibinya sih ngurus kerjaan di Gunung Putri. Tanpa satu prasangka apapun, dan waktu itu juga mikirnya kan ini kakak kelas, sedaerah lagi (walau beda kabupaten), otomatis rasa persaudaraan pun terasa sekali. Kuiyainlah ajakannya.

Hari pun berganti hari. Di Minggu pagi yang sudah dijanjikan, aku siapinlah batin ini untuk menghadapi kemungkinan paling buruk andaikata pertemuan ini berbuah pahit. Hahahahaha...Jadi aku bersikap sesopan mungkin, senetral dan sebiasa-biasa mungkin.

Sempat terbersit dalam pikiran, ah paling doi cuma basa-basi. Buktinya udah jam sebelasan belum ada sms lagi. Jadi aku terlanjur males-malesan. Aku malah nonton infotement sambil tidur-tiduran.

Eaaaaaalah ga lama kemudian HPku bunyi lagi. Katanya doi uda hampir nyampe. Ya masih di terminal Laladon sih. Terus dia bingung jalur selanjutnya pake apa. Yoih, dia emang ngangkot. Hahahahha... #cintaku di jemputan angkot dah.

Aku kaget setengah mampus. Jadi ini beneran mau nyamperin di kos? Kosanku kan terpencil. Letaknya dikelilingin sawah yang dilaluin kotak sampah pertama dari jalan raya.

"Patokannya apa Justi?"

"(Emm...aku mikir sejenak, cari kata-kata yang pas biar ga diketawain pas nyebut ancer-ancer tempat sampah) Ntar kalo abis dari tempat sampah pertama, mas turun, udah gitu ikutin jalan setapak lurussss teruss..tar di ujungnya noh ada rumah kosan namanya Rizki," (Fuh tengsin berat ngejelasin tentang kosanku yang patokannya tempat sampah).

"Oke," katanya pendek.



Dalam sekelebatan itulah aku langsung blingsatan cari baju. Maklumlah belum pernah kencan. Bolak-balik aku setrika gamis yang rada kusut. Dan setelah capek ngaca, akhirnya kuputuskan buat pake baju gamis kembang-kembang pink sepasang dengan tas ransel warna senada. EPIC !!! (Dan sekarang dia merasa geli kalo aku pake outfit head to toe warna pink kembang-kembang !!! Katanya itu culun bangettt).


Tiba saatnya HP berbunyi. 


"Aku sudah nyampe di depan," katanya.

DEG. Udah deh ga usah ditanya lagi gimana rasanya ni jantung mau copot. 
Hahahhaa

Langsung dengan malu-malu kucing kubuka pintu, dan di sanalah lelaki kurus tinggi itupun memberikan senyuman termanisnya. Kesan pertamanya padaku, katanya kaget, aku anaknya sepolos ini, mana lagi pilek lagi. Suara nyaris kayak kodok dan inguspun keluar masuk. Huft...ini karena flu. Makanya aku bawa-bawa sapu tangan.

Kenalan dikit, terus jalan deh ke Kebon Raya...

Ada kejadian lucu sih waktu pertemuan pertama kami. Pas jam makan siang, saking bingungnya mau makan dimana, akhirnya kugiringlah beliau ke RM Padang. Padahalll....dia itu paling benci sama masakan Padang. Hahahhaha... Tapi gengsi lah kalau ga nurutin petunjuk tuan rumah. Akhirnya doi makan dengan muka aneh....sedangkan aku cuma minum jus. Serius abis dipaksa makan nasi, akunya malah bilang udah makan, PADAHAL SEBENERNYA LAGI DIET.

Habis itu jalan-jalan, cerita-cerita....sampe sore dan hujan. Aku diantar balik ke kosan. Naik angkot. Hahahahah...


Jalanlah kami menyusuri gang. Sepayung berdua...sungguh romantisnya..

Dia juga nyebut namaku dengan aksen lucu...Justi itu diucapnya Jasti... Lalu aku protes dan ditertawakan.

"La iyaaa...Jasti kan artinya 'just for me'," gombalnya.

MMMM MASA SIHHHH..... ???

"Memang diciptakan untuk kalangan tertentu, jadi harus jadi milikku toh, bakal takuyak-uyak mbuh tekan ndi... klo pun uda punya pacar, yo bakal takrebut, hehehee," terangnya yang membuat hatiku berbunga-bunga.

Apakah ini kode??

1 bulan kemudian.....tepatnya 19 Desember 2010, aku diajak ketemuan lagi di kebon Raya. Pada hari bersejarah itu dia kemudian bilang mau serius denganku (sembari nunggu aku lulus dan kerja beberapa tahun dulu) hingga akhirnya benar-benar menghadap Bapak.
 
aku dan suami

Terjebak di Lingkungan 'PERS'

Orang bilang, cari kerja itu susah. Dan YES, kuakui itu benar. Setelah resmi menyandang status pengangguran gelar sarjana Ekonomi Studi Pembangunan Kampus Favorit, tak lantas menisbatkan aku untuk goyang-goyangin kaki di korsi empuk dengan blazer parlente. Aku justru terdampar menjadi kuli dalam rentang waktu 3 tahun. Menclok sana, menclok sini ngehadirin launching brand A,B,C, ketemu BOD-BOC perusahaan keren baik swasta, BUMN, maupun keluarga. Dengan seragam, yah kaos oblong pun bolehlah, celana jeans belel dan juga sepatu kets. Eh...enggak ding...sebenarnya 2,5 tahun menjadi kuli tinta, 5 bulannya lagi langsung pindah ke divisi lain.

Kuli tinta aka wartawan, bahasa kerennya jurnalis. Ah, mungkin itu masa-masa syedih yang harus aku lewati. Beneran !!! Sejujurnya aku tak cinta profesi ini. Aku emang suka nulis. Tapi bukan nulis laporan berita yang kena tenggat waktu sedemikian cepat sehingga kalo telat sedikit udah keburu basi. Aku ga suka. Aku tuh sukanya nulis yang fiksi-fiksi atau story telling kayak novel-novel yang diperankan oleh tokoh Han Ji Eun dalam serial Full House. Aku pengennya jadi penulis buku....bukan wartawan.... 

Kupikir tadinya ini bisa menjadi batu loncatan atau setidaknya mengasah mentalku agar tidak cemen-cemen amat saat terjun ke dunia yang katanya keras ini. Tapi ternyata ..... bendera putih musti berkibar !!!

Sejujurnya memang aku tidak terlahir untuk bekerja di lapangan. Orang boleh iri saat tau aku dapet tiket ke Singapur untuk ngeliput kongres kesehatan tingkat internasional terus upload-upload Garden By The Bay secara gratis. Orang pasti ngira, uh enak banget bisa ketemu artis, direktur, atau kalangan jetset yang punya aset segudang dan tahu merek-merek dagang tertentu sebelum diblash ke publik secara massal. Orang pasti menyayangkan karena aku kurang menikmati fasilitas hotel mewah saat liputan, akses ketemu orang-orang penting, dan endebra endebrey-nya....Tapi yah...itulah hidup...mungkin aku tipenya memang bukan yang doyan menikmati semua itu sendirian. Kadang saat tugas malah kepikiran...ah apa enaknya ya kalo aku nginep di hotel berbintang, tapi ga menikmatinya sama keluarga.... Aku malah cenderung kesepian ketika dines ke luar negeri, sementara yang ada di dalam kepala cuma mau nyiapin masakan. Atau coba kalo ke luar negerinya bareng bapak ibu, kakak, adek, tamas...pasti lebih seneng.  Sementara yang lain antuisas kalo dapat undangan serupa, tetapi kenapa kok aku tidak?

Satu tahun diangkat pegawai tetap, langsung buru-buru ajuin cuti kawin. Kawin booookkkk.... Males kelamaan. Udah pengen berkeluarga aja bawaannya. Jadi ya itu, begitu tabungan sudah kumpul...apa lagi yang musti ditunggu??? Melengganglah kami ke bangku pelaminan. Dan, yah....emang benar meski setelah married masih nuntasin tugas jadi wartawan (sebelum terima surat pindah divisi),  tetep aja tuh rasanya kayak kerja tapi setengah hati. Aku masih berhusnudzon bahwa mungkin ini hanya euforia pengantin baru saja kali ya, jadi bawaannya pengen cepet ngeberesin rumah atau ketemu suami. Eh tetapi enggak juga loh....setelah pindah divisipun tetep sama bawaannya. Bukannya langsung fresh karena suasana baru, malah semakin pusing karena tempat kerja jauh...dan lagi banyak faktor X lainnya yang membuat suasana semakin kurang menyenangkan. That's why aku galau ketika bekerja malah membuat aku tidak bahagia. Mungkin aku memang tipenya yang lebih seneng mengutamakan keluarga ... bukan menjadi wanita karir.

Spesial untuk Mbak Ika

Lega....akhirnya ikutan juga Giveaway ini setelah menimbang-nimbang antara mau jadi tim hore-hore apa ga.....Kalau nggak, duh ya ampyun aku jahat banget, sementara Mbak Ika orangnya baik hati kayak malaikat....(suka kasih jempol atau ninggalin jejak komen di setiap postingan blogku)... masa beliau ngadain hajat aku ga ikutan??  Bukan...bukan untuk balas budi atau apa, tapi semata-mata karena aku tertarik dengan hadiah cilok (PING-PONG-nya )...eh gaaa ding..., maksudku aku suka banget sama temanya. Terlepas dari aku masih kacau banget ngerangkum biografi yang ala-ala gitu deh. But, anyway...selamat hari jadi buat Mbakku yang imut-imut bin unyuk ini...semoga 17 Maretmu menjadi hari spesial bersama keluarga tercinta...Peluk hangat dari Tangerang :* :*.













1 Response to "Transformasi Si Anak Cemen"

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

‪#‎100persenbuahnusantara‬ #BlessfulAugust #DreamsWellEngineered #evrinaspGiveaway #‎fruitsummit2015‬ #GoForItEmakGaoel #KainDanPerjalanan #‎livingfunandhealthy‬ #lombablogpojokpulsa2015 #PiknikItuPenting 4G 4G LTE About Me Agama. Akad alun-alun kebumen Ammara Beauty Care Angkringan ARTIKEL Bakmie Jowo Kangen Beauty BERITA blibli.com Braling Photography Candi Borobudur Citra Raya CitraRaya dawet hitam dawet ireng diet Es Buah Singkawang family Gaun Muslim Bentuk Payung giveaway Giveaway #OOTDAlaAku2015 Grand New Velloz Grand New Veloz gudeg h-1 Honeymoon HUKUM ibu rumah tangga IKLAN Jadul 90-an jalan-jalan Job Review karikatur Kebumen KELUARGA KESEHATAN Khasiat yogurt Kota Padang kuliner Magelang Kutoarjo kutowinangun life LIPSUS lomba menulis love Make Over Kamar Mandi manfaat yoghurt manfaat yogurt untuk ibu hamil Mbutuh Menu Masakanku Merah Marun mie ayam murah My 7 Days Fruit Diary Nasi Bakar Niro Granite Niro Granite Indonesia One Day Challenge Toyota OpenSnap opini Optik Kinanti Pak Edi pak kasman Pakdhe Untung Pasar Kutoarjo Pasar Lama Pendidikan Perumahan Idaman di Tangerang POLITIK Pondok Cianjur Purworejo Random REDAKSI Resepsi Review review Blibli.com review film review music review otomotif ronde Roti Bakar 88 rumah idamanku rumah nyaman sate ambal sate blora SEJARAH Smartfren Smartfren 4G Smartfren 4G LTE Advanced Snap and Share Challenge Spirited Away Sunpride Tacose. tangerang TV ONLINE wedding Wego Wetan pasar WISATA wisata kuliner wisata tangerang Yogurt heavenly blush yogurt strawberry Yogurt terbaik di indonesia yogurt yang bagus yogurt yang baik yogurt yang mengandung probiotik