‘Mencicipi’ Minang sesungguhnya tak melulu harus dari makanannya. Tapi juga dari kearifan lokal yang dimiliki. Seperti halnya daerah lain, Padang, khususnya Kota Bukittinggi, juga memiliki sejuta kearifan lokal yang salah satunya berupa kerajinan sulam-menyulam. Selain songket, rupanya ada satu jenis kain lagi yang membuat saya cukup kepo. Namanya Renda Bangku. Keren dan lain daripada yang lain bukan? Mungkin kata ‘bangku’ inilah yang pada akhirnya menggenapi rasa penasaran saya untuk mempretelinya satu per satu.
| Ibu Rukbeni (foto taken by Gustyanita P) |
Berdasarkan informasi yang saya himpun dari portal jamgadang04(dot)com, usai menikah, setiap wanita yang tinggal di Bukittinggi, terutama di Kabupaten Agam, sejatinya ingin terlihat menawan di hadapan keluarga mempelai prianya. Untuk itulah mereka berhias dengan menggunakan selendang yang dipadu padan dengan songket. Selendang disampirkan ke atas bahu dengan memperlihatkan sisi sulaman yang ditanamkan pada kain. Biasanya motif yang digunakan adalah bunga. Jenis bunganya pun bermacam-macam. Begitu pula dengan warna maupun jenis tusukan sulamnya.
“Ini sebenarnya asli Belgia, tapi kemudian diajarkan ke nenek moyang kita secara turun temurun. Dan sampai sekarang jadi mata pencaharian kaum ibu di Koto Gadang, karena kaum prianya berkecimpung di kerajinan perak,” tutur Ibu Rukbeni, salah seorang perajin renda bangku yang saya temui di sebuah pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata beberapa tahun silam.
| Hasil karya sulaman renda bangku (foto taken by Gustyanita P) |
Ia mengatakan bahwa model tusukan sulam yang biasa digunakan adalah suji cair (satin stitch) dan kepalo samek (french knots). Suji cair merupakan varian sulaman yang menonjolkan permainan panjang dan pendek pada benang yang dijahitkan di atas kain. Biasanya benang yang digunakan adalah benang emas, benang perak, maupun benang sutera. Untuk menghasilkan motif yang hidup, misalkan bunga, dibutuhkan ketelatenan serta akurasi penempatan warna yang cukup tinggi sehingga gelap terangnya saling menyatu atau cair.
Sementara itu, kepalo samek atau biasa disebut sebagai kepala peniti adalah teknik sulaman yang mengaitkan benang pada ujung jarum sehingga pada saat dijahit akan membentuk bulatan kecil pada kain.
Jujur, bagi saya yang penggila vintage, utamanya untuk busana yang bermotif kembang-kembang, sulaman-sulaman seperti ini terkesan begitu manis dan ‘mahal’. Mahal di sini bukan diukur dari sisi ekonomisnya ya. Tapi juga dari nilai tangannya. Karena kan semua dikerjakan by tangan. Apalagi dengan contoh seorang Ibu Rukbeni yang dalam hal ini meski sudah sepuh namun tetap saja lincah memainkan jari-jemarinya di atas bangku bulat yang menjadi medianya. Beliau menceritakan pada saya bahwa untuk menyelesaikan satu sulaman atau renda dibutuhkan waktu yang cukup lama karena kan begitu rumit ya.
“Ciri khasnya memang cerah-cerah gitu ya Bu?” tanya saya kemudian.
“Ya, sebagian ada yang cerah. Sebagian lagi ada yang hitam putih. Sesuai permintaan saja. Customized, “ ujarnya yang mengisahkan kalau di kota asalnya kerajinan ini banyak dijual di Pasar Atas Bukittinggi.
| Mukena bordir asli Minang kepunyaan saya |
![]() |
| Saya dan mukena bordir pink minang |
Khusus yang sutera (untuk baju kurung) biasanya tidak dijual di sembarang toko, melainkan hanya di toko-toko besar saja. Dan pilihannya pun variatif.
Bukan baju saja sih yang bisa dihasilkan, tapi ada juga taplak meja, tatakan cangkir, mukena, dan juga kerancang atau kerah. Mulai dari yang imut-imut sampai yang ukuran besar.
Si Ibu membocorkan bahwa karyanya ini sudah pernah wara-wiri di kalangan pejabat istana lho. Bahkan seorang Ibu Tien Soeharto dan Ibu Jero Wacikpun pernah naksir karyanya. Wah..wah....tentunya bikin bangga dong ya. Mimiliki keahlian menyulam emang kesannya ‘wanita’ banget deh kalau kata saya.
‘Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakanoleh Wego’


0 Response to "Renda Bangku, Rasa ‘Minang’ yang Tak Lekang Oleh Waktu"
Posting Komentar