Saya berupaya ada kulinernya untuk kunjungan ke Bali (kali ini), akhir minggu di ujung bulan November 2008. Oleh karena itu, saya “menolak” sarapan di hotel. Sabtu pagi menjelang ke Amed-Bali Timur , kami meminta kepada pemandu menu sarapan yang bernuansa Bali.
PakMade Sudiarta membawa kami ke Warung Adi di jalan danau Buyan, ke suatu kedai nasi campur Bali, tak jauh dari hotel kami di Sanur. Tempatnya sederhana namun bersih, pak Made mengenal tempat ini sejak 25 tahun yang lalu.
Lauk, dengan dominasi ayam yang dimasak betutu dan dijadikan sate lilit, teratur rapi pada lemari kaca, sehingga mudah memiih. Saya memilih ayam betutu plus udang, dengan sayur (yang ternyata kacang panjang dengan pare) dan sambel (matah). Nasi merah rupanya sedang trend , ditawarkan khusus, dan ibu pemilik kedai tanggap dengan menawarkan porsi separuh untuk saya. Ada kuah penyerta ayam, saya makan dengan sendok, sementara Ndoro Kakung menikmati dengan tangan.
Kami bertiga , minumnya jeruk hangat, dan sangu sate ayam lilit 10 tusuk, semuanya Rp. 70.000, . Hmm, ayam betutu begitu kena kuah, rasanya seperti opor. Hore…., akhirnya saya dapat juga nasi campur Bali, setelah sekian kali kunjungan ke Bali, dan setelah sekian lama cuma jadi kisah untuk saya.
Segera datang 3 porsi nasi, 3 sup ikan, satu mangkuk sayur, satu pring kecil kacang tanah, satu piring sambel matah, satu piring sate lilit dan pepes. Yang dinamakan pepes itu bentuknya dan rasanya seperti otak-otak, gepeng. Serasa di warung Sunda gabung dengan Padang. Duduk, lesehan, makanan datang dengan cepat, dengan ikan yang terasa segar.
Menurut pak Made, ikan dari Sanur ke Timur lebih segar di bandingkan sisi barat. Sambel sangat terasa, bukan ulek, namun rajangan. Cabe merah (kecil sepertinya) dirajang halus, disertai bawang merah juga, rasanya sih, ada bawang putihnya dikit, diberi perasan jeruk sambal. NasiNdoro Kakung dengan cepat raib, tahu kalau saya pasti makan ½ porsi , dari awal yang setengah sudah dipesan untuk pindah alamat.
Pak Made menerangkan, sambelnya gabungan panas dan dingin. Cabenya panas, bawang merahnya mendinginkan. Wah, iya, waktu kecil, kalau demam, saya pernah di “pupuk” bawang merah di dahi (sebelum ketahuan pakde saya yang dokter anak) . Berapa? Wah, yang bayarNdoro Kakung, lupa tanya.
(Yang belum berhasil saya dapatkan, bebek Ubud! Gustu bisa mengantar, pada kunjungan saya , entah kapan?)
0 Response to "Wisata kuliner di Bali"
Posting Komentar